Thursday, July 30, 2009
Jam satu malam. Akhirnya aku sampai juga di Jakarta setelah hampir tiga tahun mengabdi di sebuah desa terpencil di pedalaman Sumatra―tanpa televisi, komputer, ataupun handphone―demi menyelesaikan sebuah proyek pekerjaan. Selama dua tahun komunikasi dengan keluarga hanya terjalin melalui surat-menyurat. Aku duduk menunggu Metro Mini untuk kembali ke rumah. Terminal bus tidak terlalu ramai pada malam hari. Aku duduk di kursi tunggu yang hanya sebuah besi usang persegi panjang tanpa senderan dan meletakkan koper dan tas ransel berwarna biru gelap di belakangku. Tas biru polos yang merupakan pemberian ibuku delapan tahun yang lalu. Sambil menunggu Metro Mini yang tak kunjung datang, aku membaca buku dan tenggelam di dalamnya, serasa lupa akan lingkungan sekitar.
Beberapa lama kemudian, terdengar suara riuh knalpot Metro Mini, kutenteng buku yang tadi kubaca dan berlari kecil dan bergegas menaiki Metro Mini. Kok, aneh. pikirku. Tas ku terasa lebih berat dari sebelumnya. Tapi aku tak ambil pusing dan langsung duduk di kursi paling belakang. Samar-samar tercium bau amis. Sambil menyelidiki darimana asal bau itu, aku membuka tas untuk memasukan buku. Mataku terbelalak. Aku begitu terkejut mendapati tasku yang tadinya berisi buku-buku bacaan dan makanan-makanan ringan, berganti menjadi sebuah gergaji, pisau besar, pistol tanpa peluru, dan beberapa barang lainnya, semuanya berlumuran darah. Aku begitu terkejut hingga tak mampu berteriak. Pasti tasku tertukar di terminal tadi! pikirku. Kututup tasku rapat-rapat dan bergegas turun, biarpun masih jauh sekali dari tempat tujuan. Aku berlari mencari Pos Polisi terdekat. Jantungku berdegup kencang. Milik siapa tas ini sebenarnya?
Jam tiga kurang lima. Ada empat orang polisi di ruangan yang aku masuki. kuletakkan tas biru gelap―yang persis seperti tas kepunyaanku―di atas meja. Para polisi sibuk membongkar, mengidentifikasi, dan menghujaniku dengan berbagai pertanyaan. Setelah puas mencatat dan mengintrogasi, mereka memperbolehkanku pulang, seraya berjanji akan memberi kabar lebih lanjut.
Genap enam hari sejak tasku tertukar. Aku sedang menonton berita televisi di ruang tamu sementara ibu mempersiapkan hidangan makan malam di meja. Tiba-tiba telepon rumah berdering. Segera kuangkat. Ternyata itu merupakan telepon dari Kepolisian.
Malam itu diwarnai oleh rintik-rintik hujan membasahi atap kantor kepolisian. Tas biru milikku sudah berada di pangkuan. Polisi telah mendapatkan semua bukti yang diperlukan, pelaku pun telah ditemukan. Rupanya tanpa sengaja tasku tertukar oleh tas milik seorang pembunuh. Benda-benda yang ada di dalam tas itu ternyata sebelumnya telah digunakan untuk mengakhiri nyawa seorang manusia dengan cara yang keji dan tidak bermoral.
Pencahayaan di ruangan itu remang-remang namun aku masih bisa mengenali rambut ikal hitam kecoklatannya, cara dia berdiri, bentuk rahangnya yang kuat, bahu nya yang lebar, dan kulit kuning langsat yang sekarang dihiasi dengan tato. Aku kenal dia! itu kakakku! Kak Hendi, kakakku satu-satunya, kabur enam tahun yang lalu karena merasa terkekang. Dengan nekad ia melawan arus nasib, memberontak lalu meninggalkan rumah setelah meneriakkan kata-kata kasar ke orangtuanya, dan tidak ada yang tahu bagaimana kabarnya sejak saat itu. Sejak saat itu pula segala hal tentang Kak Hendi ditutup rapat-rapat, seakan ingin dihilangkan dari sejarah keluarga. Tapi aku tahu, diam-diam ibu sering menangis karena rindu akan anak sulungnya yang dulu adalah putra kebanggaannya.
Jantungku seakan terhenti sesaat, lutuku terasa lemas.Kulihat ibu tiba-tiba tersungkur tak sadarkan diri, tak kuasa menerima kenyataan pahit bahwa ternyata pembunuh keji itu tak lain adalah Kak Hendi.
Sesaat setelahnya aku menyadari bahwa kedua tas biru gelap itu merupakan tas pemberian ibu. Aku dan Kak Hendi masing-masing diberi satu sebagai hadiah naik kelas, delapan tahun yang lalu.
Subscribe to:
Posts (Atom)